Bab 1
HIJRAH RASULULLAH KE MADINAH
Hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah menjadi peristiwa besar bagi umat Islam. Kisah itu punya makna mendalam bagi muslimin dunia. Peristiwa itu kemudian menjadi awal tahun kalender Islam dan diperingati hingga sekarang.
Sebelum hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad telah berdakwah menyebarkan Islam di Mekah. Semula, Nabi berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Syiar Islam kemudian dilakukan dengan terang-terangan.
Kaum kafir Quraisy yang sejak semula memusuhi Nabi semakin gencar melakukan desakan. Intimidasi terjadi setiap waktu. Namun, saat Nabi perlu dukungan, datanglah masa sulit. Sang istri, Siti Khadijah, wafat. Padahal Siti Khadijah menjadi salah satu motivator bagi Nabi dalam menyebarkan Islam.
Setelah Khadijah, pamah Nabi, Abu Thalib, juga meninggal dunia. Semasa hidup, Abu Thalib lah yang menjadi pembela Nabi dari kebengisan kafir Quraisy. Dengan wafatnya Abu Thalib, kaum kafir Quraisy semakin semena-mena. Wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib membuat Nabi berada dalam suasana duka.
Pada masa-masa yang disebut sebagai tahun duka cita itu, terjadilah peristiwa luar biasa, yaitu Isra’ Mi’raj pada 27 Rajab, sekitar rahun 621 Masehi. Pada peristiwa itu, turunlah perintah salat lima waktu.
Setelah peristiwa itu, Nabi kembali melanjutkan dakwahnya di Mekah. Pengalaman luar biasa itu diceritakan pada pengikutnya. Namun, kabar itu membuat kaum kafir Quraisy semakin menekan. Mereka menuduh Nabi berbohong.
Pada 621 M itu pula, datanglah sejumlah orang dari Madinah, menemui Nabi di Bukit Aqaba. Mereka memeluk agama Islam. Peristiwa tersebut dikenal dengan Bai’at Aqaba I.
Tahun berikutnya, atau 622 M, datanglah 73 orang dari Madinah ke Mekah. Mereka merupakan Suku Aus dan Khazraj yang semula ingin berhaji. Mereka kemudian menemui Nabi dan mengajak berhijrah ke Madinah. Mereka menyatakan siap membela dan melindungi Nabi dan para pengikutnya dari Mekah. Peristiwa ini dikenal dengan Bai’at Aqabah II.
Kondisi kaum muslim di Mekah juga semakin terdesak setelah kaum kafir Quraisy melakukan boikot kepada Nabi Muhammad dan para pengikutnya yang berasal dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Kaum Quraisy melarang setiap perdagangan dan bisnis dengan pengikut Nabi.
Selain itu, semua orang dilarang menikah dengan kaum muslimin. Tak ada yang diperkenankan bergaul dengan pengikut Nabi Muhammad. Mereka juga mendukung kelompok-kelompok yang memusuhi Nabi Muhammad. Boikot inilah yang membuat kaum muslimin semakin terdesak.
Dalam upaya menyelamatkan dakwah Islam dari gangguan kafir Quraisy, Nabi Muhammad, atas perintah Allah, memutuskan hijrah dari Mekah ke Madinah. Namun sebelumnya, Nabi telah memerintahkan kaum mukminin agar hijrah terlebih dahulu ke Madinah. Para sahabat pun segera berangkat secara diam-diam agar tidak dihadang oleh kelompok kafir Quraisy.
- tiga malam di gua tsur
Struktur dan bentuk gunung ini menyulitkan para peziarah untuk mendaki sampai ke Gua Tsur. Bahkan, upaya pendakian gunung tersebut sering mendatangkan bahaya dan korban jiwa.
Gua ini mempunyai dua pintu masuk yang terletak di bagian depan dan bagian belakangnya. Sepintas kilas, bentuk gua ini menyerupai bentuk kuali.
kaitannya dengan sejarah hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah.
“Di dalam Gua Tsur inilah Nabi Muhammad beserta Abu Bakar bersembunyi dan beristirahat selama tiga hari dalam perjalanan hijrah tersebut.”
Sejarah hijrah sendiri dimulai ketika kaum kafir Quraisy sudah sampai kepada puncak kedengkian dan kemarahan mereka melihat perkembangan ajaran Islam yang semakin pesat di kalangan suku Quraisy sendiri. Bahkan telah pula memiliki basis yang kuat di Kota Yatsrib (Madinah).
Dalam musyawarah yang panjang dan alot di Darun Nadwah, para pemuka Quraisy akhirnya memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad . Algojo yang akan melakukan pembunuhan adalah para pemuda perkasa yang berasal dari tiap-tiap kabilah Quraisy yang dilengkapi dengan sebilah pedang tajam.
Para pemuda ini disuruh untuk melakukan pembunuhan secara serempak dan bersama-sama. Hal ini bertujuan agar Bani Hasyim dan Bani Muthallib (kabilah dari mana Nabi Muhammad berasal) tidak berani untuk menuntut balas, sebab semua kabilah Quraisy terlibat dalam pembunuhan tersebut.
Rencana busuk kaum kafir Quraisy tersebut atas izin dan pertolongan Allah, akhirnya tercium oleh Rasulullah . Rasulullah mendapat izin dari Allah untuk melaksanakan hijrah ke Madinah dan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Pada malam hari yang telah ditetapkan, para pemuda Quraisy mengepung rumah Nabi dari segala penjuru. Rasulullah menyadari hal itu dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Lewat tengah malam, Nabi menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat perbaringan dan memakai selimut yang biasa beliau gunakan.
Rasulullah pun keluar rumah dengan hati yang mantap. Atas kekuasaan Allah, tidak seorang pun dari pemuda yang mengepung tadi melihat kepergian Nabi Muhammad .
Konon, Nabi Muhammad masih sempat menyiramkan pasir ke kepala para pemuda tersebut sambil membacakan ayat Alquran surah Yaasin ayat 9: “Dan kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”
Di dalam Gua Tsur inilah Nabi Muhammad beserta Abu Bakar bersembunyi dan beristirahat selama tiga hari dalam perjalanan hijrah tersebut.
Menurut suatu riwayat, waktu Nabi Muhammad keluar menuju Gua Tsur itu, para pemuda Quraisy masih tertidur semuanya, mereka baru terbangun setelah Nabi Rasulullah berlalu dan mendapati kepala mereka penuh dengan pasir berdebu. Mereka baru sadar bahwa mereka telah tertidur dan tertipu.
Tidak ada yang tahu tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar, kecuali Abdullah bin Abu Bakar, Asma’ binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, dan pembantu mereka bernama Amir bin Fuhaira. Merekalah yang sangat berjasa membantu Nabi Muhammad dan Abu Bakar.
“Abdullah bertugas mencari informasi tentang kaum kafir Quraisy. Sehari-harinya dia berada di tengah-tengah kaum kafir Quraisy untuk mendengar sikap dan rencana yang akan mereka laksanakan,” Malam harinya, seluruh informasi tersebut disampaikan kepada Nabi Muhammad dan Abu Bakar. Sedangkan Amir tugasnya menggembalakan kambing Abu Bakar di sekitar Gua Tsur, memerah susu dan menyiapkan daging untuk makanan Nabi dan Abu Bakar, dengan dibantu oleh Asma’ dan Aisyah.
Disamping itu, Amir bertugas menghapus jejak Abdullah yang keluar masuk tempat persembunyian dengan cara mengembalakan kambingnya di jalan yang dilalui Abdullah sehingga jejak Abdullah terhapus.
Setelah kaum kafir Quraisy mengetahui bahwa buruan mereka telah berhasil meloloskan diri, mereka lalu mengerahkan semua kekuatan untuk mengejar dan mencari Nabi Muhammad .
Segala tempat di berbagai arah mereka sisir dan selidiki satu per satu dengan tanpa mengenal lelah. Di antara pasukan Quraisy ada yang datang mendekati Gua Tsur. Mereka menghunus pedang sambil mondar-mandir mencari dengan penuh selidik ke segenap penjuru.
Tidak jauh dari gua itu mereka bertemu dengan seorang pengembala, lalu mereka bertanya, “Apakah Muhammad dan Abu Bakar dalam gua itu?”
Jawab penggembala, “Mungkin saja mereka dalam gua itu, tapi saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana.”
Ketika mendengar jawaban gembala itu, Abu Bakar berkeringat. Ia khawatir, mereka akan menyerbu ke dalam gua. Abu Bakar menahan nafas, tidak bergerak, dan hanya menyerahkan nasibnya kepada Allah .
- Perjalanan Menuju Kota Madinah
Tiar menyebut, hijrah ke Thaif yang hanya berjarak 80 kilometer dari Makkah menemui kegagalan karena kondisi di sana tidak kondusif bagi kaum Muslimin untuk bertempat tinggal. Penduduk asli Thaif menolak ajakan Nabi untuk memeluk Islam .
Sedangkan upaya hijrah ke Habsyah (sekarang Ethiopia) juga tak berjalan mulus. Meski umat Muslim sempat dua kali berhijrah ke negeri yang dipimpin Raja Najasyi itu. "Kalau ke Habsyah ya diterima tapi nggak ada orang Islam di sana. Rajanya disana masih orang Kristen. Gagal kedua hijrah tersebut," kata Tiar.
Tiar menyebut, sejumlah upaya hijrah itu berjarak sekitar lima tahun sebelum akhirnya Nabi dan kaum Muslimin berhasil berhijrah ke Yastrib (Madinah). Yastrib akhirnya dipilih dan diizinkan Allah, sebut Tiar, karena sudah terdapat umat muslim di sana.
Tiar menjelaskan, keberadaan kaum Muslimin di Yastrib karena sebelum masa hijrah terdapat puluhan orang Yastrib yang datang menuju Makkah. Mereka bertemu Nabi dan memeluk agama Islam. Peristiwa itu disebut Baiat Aqabah. "Bai'at Aqabah pertama itu ada 12 orang, lalu yang kedua sebanyak 73 orang," ungkap Tiar.
Akhirnya, lanjut dia, 85 orang inilah yang menyebarkan ajaran Islam di Yastrib. Tiar memperkirakan, sudah terdapat ribuan umat Muslim di Yastrib sebelum hijrahnya Nabi.
Tiar menambahkan, pilihan Nabi dan kaum Muslimin untuk pergi atau berpindah atau hijrah itu adalah sebuah tindakan menjaga keselamatan umat dan ajaran Islam. Orang kafir di Makkah saat itu menunjukkan ketidaksukaan kepada Nabi dan ajaran Islam dengan cara yang sangat kejam. Mereka melakukan penindasan secara fisik dan pelarangan umat Muslim untuk beribadah.
"Pilihan untuk pergi itu juga bukan sesuatu yang mudah dilakukan nabi, karena orang kafir berupaya membunuh nabi dengan mengejarnya," papar Tiar.
Perjalanan hijrah ke Yastrib yang ditempuh sekitar 10 hari perjalanan itu disambut dengan kaum Muslimin yang ada di sana. Hingga akhirnya Nabi didapuk sebagai pemimpin di Madinah.
"Nabi pun mewujudkan sebuah peradaban yang diisi tidak hanya orang Islam, tapi juga orang kafir dan Yahudi. Nabi membuat kesepakatan yang namanya Piagam Madinah untuk mengatur peradaban tersebut," papar Pembina komunitas Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) ini.
Tiar menambahkan, hijrahnya nabi ke Madinah akhirnya dijadikan oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai penanda awal kalender Hijriyah atau tahun satu Hijriyah. Penanggalan itu masih digunakan umat Islam hingga hari ini.
Dua hari lagi atau tepatnya 1 September 2019 Masehi, umat Islam akan menyambut tahun 1441 Hijriyah. Tiar berharap, pergantian tahun Hijriyah ini dimaknai umat Muslim sebagai saat yang tepat untuk berhijrah sebagaimana yang dilakukan nabi. Yakni, berhijrah untuk mewujudkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta).
Bab 2
PERMULAAN DAKWAH DI MADINAH
- pembangunan masjid quba
Masjid Quba adalah masjid pertama kali yang didirikan Rasulullah , saat beliau hijrah dari Makkah ke Madinah. Beberapa kilometer sebelum memasuki Madinah, Rasulullah bersama Abu Bakar, membangun masjid di daerah Quba, yang sekarang dinamakan dengan Masjid Quba.
Masjid ini didirikan pada tahun 1 Hijriyah atau sekitar 622 M. Ketika itu, Rasul diperintahkan oleh Allah untuk segera berhijrah dan menghindari kekejaman kafir Quraisy.
Dalam upaya hijrah itu, lokasi pertama yang disinggahi Rasulullah adalah gua Tsur. Di dalam gua ini, Rasulullah bersembunyi bersama Abu Bakar dari kejaran kaum kafir Quraisy.
Setelah kondisinya dirasa aman, Nabi kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madinah. rasul memilih jalan yang berbeda dari jalan umum. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari pertemuan secara langsung dengan orang-orang kafir Quraisy.
Dan sebelum tiba di Madinah, Rasul sempat singgah di beberapa tempat dan salah satunya adalah Quba. Beliau tinggal di daerah ini selama beberapa hari, sambil menunggu kedatangan Ali bin Abi Thalib dari Makkah, bersama rombongan.
Ketika itu, saat akan berhijrah, Ali diperintahkan Rasulullah untuk menggantikannya tidur di tempat tidur Rasul. Ini dimaksudkan untuk mengelabui perhatian kaum kafir Quraisy yang ingin membunuh Nabi .
Quba adalah satu daerah yang terletak di wilayah Madinah. Jaraknya sekitar dua mil atau kurang lebih lima kilometer dari pusat kota Madinah.
Hanafi al-Malawi dalam bukunya Tempat Bersejarah yang dikunjungi Rasulullah , menjelaskan, Nabi tinggal di Desa Quba selama empat hari dan kemudian membangun sebuah masjid yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Quba.
Inilah masjid yang dibangun dengan dasar ketaatan dan ketaqwaan Rasulullah kepada Allah .
''Sesungguhnya Masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.'' (QS At-Taubah [9]: 108).
Menurut hadis yang diriwayatkan Tirmidzi RA, orang yang melakukan shalat di Masjid Quba sama pahalanya dengan melaksanakan umrah. Seperti disebutkan dalam Sahih Bukhari, Nabi terbiasa mengunjungi Masjid Quba dengan berjalan kaki atau jika tidak seminggu sekali. Abdullah bin Umar biasa mengikuti sunnah ini.
Dalam riwayat lain disebutkan, masjid Quba ini adalah salah satu masjid yang paling disucikan (dimuliakan) oleh Allah setelah Masjid al-Haram (Makkah), Masjid Nabawi (Madinah), dan Masjid al-Aqsha (Palestina).
Selama berada di Quba, jelas Al-Mahlawi, Rasul tinggal di rumah Kultsum bin al-Hadam bin Amr al-Qais, seorang lelaki tua yang masuk Islam sebelum Rasul hijrah ke Yatsrib (sekarang Madinah).
Para sejarawan menyebutkan, tanah yang menjadi lahan pembangunan Masjid ini mulanya adalah lapangan milik Kultsum bin Hadam, yang biasa digunakan untuk menjemur kurma.
Masjid Quba adalah masjid yang dibangun dengan penuh pengorbanan dan perjuangan. Allah menyebutnya dengan dasar takwa, sebagaimana diterangkan dalam ayat 108 diatas.
Hal ini dikarenakan perjuangan Rasulullah dalam menegakkan agama Allah yang harus dilalui dengan penuh rintangan dan halangan. Kaum kafir quraisy hampir setiap saat selalu memantau dan mengawasi aktifitas Nabi .
Dan ketika kesempatan berhijrah datang, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan mendirikan masjid sebagai pusat perjuangan dan dakwah Islam. Ini pulalah yang dilakukan Rasulullah begitu tiba di Madinah dengan mendirikan Masjid Nabawi, setelah sebelumnya membangun Masjid Quba.
- Pembangunan Masjid Nabawi
Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah setelah Masjid Quba. Masjid Quba didirikan saat perjalanan hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Pembangunan masjid ini sudah dilakukan sejak Rasulullah tiba di Madinah. Selepas membangun Masjid Quba, Rasul melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib yang kini bernama Madinah. Di kota ini, Rasul mendirikan Masjid Nabawi.
Ada yang unik dalam pembangunan Masjid Nabawi ini. Saat memasuki Madinah, banyak sahabat Anshar yang menawarkan diri untuk memberikan tempat tinggal kepada Rasul . Banyaknya permintaan itu tentu saja akan membuat Rasul sulit menentukan pilihan. Bahkan, dikhawatirkan, jika Rasul memilih salah satunya, akan timbul perasaan iri di antara mereka.
Rasul pun memasrahkan penentuannya oleh unta yang menjadi tunggangannya. Di mana unta itu berhenti dan duduk, disitulah Rasul akan membangun tempat ibadah dan rumahnya. Biarkanlah unta berjalan karena ia diperintah Allah. Setelah sampai di depan rumah Abu Ayyub al-Anshari, unta tersebut berhenti. Kemudian, dipersilakan oleh Abu Ayyub al-Anshari tinggal di rumahnya.
Setelah tinggal beberapa bulan di rumah Abu Ayyub al-Anshari, Nabi mendirikan masjid di atas sebidang tanah yang sebagian milik As’ad bin Zurrah yang diserahkan sebagai wakaf. Sebagian lagi milik dua anak yatim bersaudara, Sahl dan Suhail bin ‘Amr. Lokasi tanah milik kedua anak yatim itu merupakan lahan penjemuran buah kurma.
Ketika pertama kali didirikan, masjid ini berukuran sekitar 50x50 meter dengan tinggi atap sekitar 3,5 meter. Rasulullah membangunnya bersama dengan para sahabat dan kaum Muslim. Beliau juga meletakkan batu pertama. Selanjutnya batu kedua, ketiga, keempat, dan kelima masing-masing diletakkan oleh Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu tanah, sedangkan tiang-tiangnya dari batang kurma dan atapnya dari pelepah daun kurma. Bagian halaman masjid ditutup dengan batu-batu kecil. Kiblat masjid dibuat menghadap Baitul Maqdis karena pada saat itu belum turun perintah untuk menghadap kiblat ke Baitullah di Makkah.
Di bangunan Masjid Nabawi awal ini, terdapat tiga buah pintu, yaitu pintu kanan, pintu kiri, dan pintu belakang. Panjang masjid 70 hasta dan lebar 60 hasta. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan. Pada waktu shalat Isya, sebagai sumber penerangan, digunakan pelepah daun kurma yang kering dan dibakar. Karena itu, bisa dikatakan masjid yang dibangun Nabi beserta para sahabat dan kaum Muslim di Madinah itu sederhana sekali tanpa hiasan, tikar, dan penerangan
Bab 3
Piangam madinah
Sejak dahulu, Islam telah mngenal sistem kehidupan masyarakat pluralis. Sistem tersebut muncul seiring dengan berdirinya negara Islam Madinah. Sejarah mencatat bahwa umat Islam memulai hidup bernegara setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib, yang kemudian berubah menjadi Madinah. Di kota ini, Nabi SAW meletakkan dasar kehidupan yang kokoh bagi pembentukan masyarakat baru di bawah kepemimpinan Rasul SAW.
Masyarakat baru ini merupakan masyarakat majemuk, yang berasal dari tiga golongan penduduk. Pertama, kaum Muslim yang terdiri atas kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka adalah kelompok mayoritas. Kedua, kaum musyrik, yaitu orang-orang yang berasal dari suku Aus dan Khazraj yang belum masuk Islam. Kelompok ini merupakan golongan minoritas. Ketiga adalah kaum Yahudi yang berasal dari tiga kelompok. Satu kelompok tinggal di dalam kota Madinah, yaitu Bani Qainuqa. Dua kelompok lainnya tinggal di luar kota Madinah, yaitu Bani Nadhir dan Bani Quraizhah.
Sekitar dua tahun setelah berhijrah, Rasulullah SAW mengumumkan peraturan dan hubungan antarkelompok masyarakat yang hidup di Madinah. Pengumuman ini dikenal dengan nama Piagam Madinah. Piagam ini merupakan undang-undang untuk pengaturan sistem politik dan sosial masyarakat Islam dan hubungannya dengan umat yang lain: musyrikin dan Yahudi.
Melalui Piagam Madinah yang oleh sejarawan mutakhir disebut sebagai Konstitusi Madinah—Rasulullah SAW berupaya memperkenalkan konsep negara ideal yang diwarnai dengan wawasan keterbukaan, partisipasi, kebebasan (terutama di bidang agama serta ekonomi), dan tanggung jawab sosial-politik secara bersama.
Karena itu, tak salah jika istilah masyarakat madani atau masyarakat sipil (civil society) yang kita kenal saat ini sebenarnya berkaitan erat dengan sejarah kehidupan Rasulullah SAW di kota Madinah. Dalam istilah ini, terkandung makna tipe ideal seluruh proses berbangsa dan bernegara, yakni terciptanya masyarakat yang adil, terbuka, dan demokratis.






0 komentar:
Posting Komentar